27 Sep 2010

Ilmuwan Temukan Rahasia Siulan

Masih ingat cerita kurcaci di cerita Puteri Salju yang bekerja sambil bersiul? Ilmuwan saat ini berhasil membuktikannya terkait efektivitas kerja.
Bersiul saat kerja mungkin membuat Anda dipelototi oleh teman kerja namun ini ternyata dapat membantu Anda menyelesaikan tugas lebih baik. Seorang psikolog mengkalim bahwa bersiul dan menyanyi dapat membantu memperbarui pikiran dari kerja yang sangat keras dan mencegah beban mental yang berlebihan.
Saran yang kontroversial ini muncul dari studi atas fenomena tersedak seperti dialami pesepakbola mengalami ini saat penalti yang kritis atau siswa yang menghadapi ujian penting.
Jauh di balik alasan saraf, tersedak ternyata terjadi saat otak mendapatkan sinyal proses informasi yang terlalu banyak menyangkut kelumpuhan analisis.
Menurut Dr. Sian Beilock dari University of Chicago yang melakukan studi lewat penyelidikan kinerja otak saat pikiran berada dalam tekanan, tersedak merupakan kondisi sub-optimal, tidak hanya tampilan yang buruk. “Ini menunjukakn kinerja Anda yang tidak dalam kondisi baik namun Anda sendiri merasakan tekanan untuk melakukan segalanya dengan baik,” kata Beilock.
Oleh karena itu, saat kondisi penting, olahraga misalnya, orang seringkali tersedak saat tegang. “Ini menunjukakn bahwa anda tidak diperbolehkan untuk mengontrol semua aspek kerja,” ujarnya lagi.
Beilock menilai bahwa menyanyi dapat membantu menghentikan bagian otak yang mungkin mengganggu kinerja otak untuk mengambil alih.
Ilmuwan menemukan bahwa otak dapat pula melakukan sabotas karena terlalu banyak tekanan saat melakukan rekaman memori. Ini merupakan abgian dari korteke prefontal yang terfokus pada kinerja tangannya.

sumber: http://www.inilah.com

Gosok Benjolan Bisa Hilangkan Rasa Sakit


Biasanya, Anda refleks akan menggosok benjolan saat terbentur suatu benda. Ternyata, menurut penelitian terbaru, tindakan tersebut bisa mengurangi rasa sakit. Kenapa?
Menurut ilmuwan, tindakan tersebut merupakan cara tubuh untuk merepresentasikan gambaran otak. Peneliti dari University College London menggunakan teknik thermal grill illusion (TGI) untuk mempelajari cara koresponden menyentuh dirinya sendiri saat merasa sakit.
Dalam penelitian tersebut, jari telunjuk dan jari manis koresponden ditaruh dalam air hangat sedangkan jari tengah diletakkan di air dingin. Hal ini menyebabkan ilusi sehingga jari tengah akan merasa panas yang sangat menyakitkan.
Pernyataan tersebut diungkapkan pemimpin studi Profesor Patrick Haggard. Partisipan telah diinduksi TGI di kedua tangan kemudian di minta menyentuh tiga jari tersebut dengan jari lainnya. Saat ini dilakukan, ternyata rasa sakit karena panas tadi menurun 64%.
Rasa sakit hanya muncul saat penginderaan temperatur dan informasi dari ketiga tangan ini benar-benar terintegrasi, ujar ilmuwan yang penelitiannya ini dipublikasikan pada jurnal Current Biology.
“Rasa sakit merupakan hal yang penting, tetapi juga rumit. Pengalaman tersebut dapat disebabkan dalam berbagai cara,” ujar Haggard.
"Kami melihat bahwa tingkat rasa sakit tidak hanya bergantung pada sinyal yang dikirim ke otak, tetapi juga pada bagaimana otak terintegrasi dengan sinyal-sinyal yang tampil secara akurat pada tubuh keseluruhan," katanya lagi.
Perasaan yang menyakitkan merupakan representasi tubuh atas pengalaman sakit. Misalnya, nyeri berlebihan saat amputasi merupakan bentuk penyesuaian otak atas bentuk tubuh yang baru.
“Penelitian ini menyorototi bahwa terapi yang ditujukan untuk memperkuat representasi multi indera di tubuh mungkin efektif untuk mengurangi rasa sakit,” ujar Haggard.

sumber: http://www.inilah.com

25 Sep 2010

Melihat Lebih Dekat Perpustakaan Pribadi BJ Habibie


Nyaman dan tenang. Inilah kesan yang didapat saat pertama kali masuk ke ruang perpustakaan pribadi mantan Presiden RI BJ Habibie.

Perpustakaan ini berlokasi di kediaman pribadi Habibie di Jl Patra Kuningan, Jakarta Selatan. Posisinya sendiri berada di bagian paling belakang rumah yang nampak asri ini.

Rancangannya diatur sedemikian rupa agar terhindar dari aktivitas orang-orang yang berada di dalam rumah. Jika ingin masuk ke dalam ruangan ini, terlebih dahulu kita harus melewati sebuah koridor. Nantinya kita akan disapa oleh dua buah kolam ikan yang terletak di sisi kiri kanan jalan.

Saat masuk, kita akan langsung disuguhkan oleh sebuah meja berukuran besar, lengkap dengan kursi-kursinya. Di sekitar meja, terpampang miniatur pesawat terbang, termasuk pesawat CN 235, yang sempat menjadi kebanggaan negeri ini.

Menolehlah ke sebelah kiri, ratusan buku yang tersusun rapih pun langsung terlihat. Saking banyaknya buku-buku yang ada, Habibie sampai perlu membuat rak hingga dua lantai.

"Di dalam (rumah) masih banyak lagi buku-buku Bapak yang belum di bawa ke sini," kata salah satu pegawai Habibie, Priyanto, saat berbincang dengan detikcom, Kamis (23/9) lalu.

Perpustakaan ini sendiri telah menyiapkan tangga permanen bagi orang yang ingin naik ke lantai atas. Lampu penerangan yang cukup serta penyejuk udara menambah kenyaman bagi setiap orang yang membaca di dalam ruangan ini.

Buku-buku yang ada juga bukan melulu soal teknologi penerbangan. Mulai dari ekonomi, politik hingga kebudayaan, semuanya ada di dalam ruangan ini.

Menurut Priyanto, ada rencana perpustakaan ini akan dibuka untuk umum. Masyarakat yang suka membaca, bisa menghabiskan waktunya di sini.

"Katanya sih juga buat mahasiswa-mahasiswa yang ingin menyelesaikan tugas akhir," jelas Priyanto.

Tidak heran, jika tempat ini diberi julukan oleh Habibie sebagai pusat keunggulan informasi kebudayaan Indonesia.


sumber: http://www.detiknews.com

Ironi "Pelacur Suci" dalam "Prostitutes of God"

Mantan wartawan The Independent, Sarah Harris, membuat film dokumenter tentang para pelacur kuil di India, Devadasi, yang adalah gadis-gadis muda yang dipersembahkan sejak kecil kepada satu dewa Hindu, namun mereka menjalani profesi pekerja seks itu untuk menyokong kehidupan keluarga mereka.

Bagian pertama dari empat seri film dokumenter "Prostitutes of God" yang secara eksklusif disiarkan online itu, telah ditayangkan VBS.tv Senin lalu.

Harris mengungkapkan proses pembuatan film itu kepada The Independent Online:

"Pertama kali saya pergi ke India setelah saya keluar dari The Independent tiga tahun lalu. Saya ingin melarikan diri dan melakukan sesuatu yang benar-benar berbeda, makanya saya menjadi relawan pada sebuah yayasan amal di India selatan yang membantu korban-korban perdagangan seks.

Di hari pertama di sana, saya tersandung dalam sebuah pertemuan para pelacur Devadasi. Saya telah diberi tahu bahwa mereka ini adalah para pelacur kuil, tapi saat itu saya tak tahu apa artinya.

Saya mulai menelitinya dan pada Februari 2008 diundang ke Karnataka utara, yang adalah pusat kehidupan tradisional di India. Saya mewawancarai sejumlah wanita dan menulis sebuah artikel mengenai hal itu untuk majalah 'Vice.' Saya kerap menyambanginya dan saya ingin mendapat keterangan lebih mengenainya."

Manakala Anda mendekati seorang gadis Devadasi untuk wawancara, tanggapan mereka beragam.

Ada banyak sekali macam perempuan. Seorang perempuan germo di Mumbai akan sangat bangga membicarakan apa yang dia kerjakan. Namun pada masyarakat pedesaan yang miskin seperti Karnatakar, perempuan-perempuan pekerja seks lebih sulit diajak bicara. Para perempuan muda ini dikucilkan dan mereka diperas untuk apa yang mereka kerjakan. Mereka berharap bisa menikah, tapi mereka tidak bisa dan berada di penjara mengerikan.

Satu-satunya hal yang berubah sejak praktik Devadasi dinyatakan ilegal pada 1998, adalah seremoni mengenai hal itu yang diselenggarakan secara rahasia. Faktanya ini adalah kebiasaan yang umum dilakukan di sejumlah daerah di India.

Orang asing memang tidak akan tahu bahwa gadis-gadis itu adalah Devadasi, namun orang India tahu sekali siapa mereka dan apa yang mereka kerjakan. Praktik ini sungguh karena kasta.

Kasta adalah masalah yang masih demikian pelik di India.

Pemahaman saya mengenai hal ini adalah orisinil. Tradisi Davadasi pertama kali muncul dari para perempuan yang didedikasikan untuk praktik ini adalah berasal dari kasta tinggi, bahkan dari keluarga kerajaan.

Mereka menempati sebuah tempat paling spesial dalam kebudayaan India. Mereka ini adalah para penari yang luar biasa, pujangga, dan seniman.

Mereka memanggul peran relijius yang istimewa untuk dimainkan dalam kuil yang mengadakan berbagai ritus relijius suci. Mereka hampir seperti biarawati dan sama sekali tak ada kaitannya dengan seks. Mereka lebih berlaku sebagai para pendeta wanita.

Film dokumenter ini memperlihatkan betapa tradisi itu telah tergerus selama berabad-abad, khususnya pada abad 19 manakala para misionaris Kristen datang. Devadasi menjadi tidak lagi menjadi perhatian.

Saat ini tradisi itu malah lebih dikaitkan dengan kasta-kasta rendah India.

Gadis-gadis dari kasta Madiga yang dikenal sebagai kasta yang tak bisa disentuh, malah prospek hidupnya menjadi begitu terbatas.

Mereka ini kini menjadi buruh tani, penagih utang atau pelacur. Karena pelacuran itu sangat menguntungkan, banyak perempuan dari kasta Madiga bekerja sebagai pekerja seks.

Sejumlah gadis dipersembahkan kepada dewi-dewi Hindu di usia dua atau tiga tahun.

Mereka belum benar-benar masuk dalam pekerjaaan seks sampai mereka mencapai pubertasnya sekitar umur 12 tahun.

Gadis-gadis yang paling berisiko dipersembahkan untuk dewa akan tumbuh dalam masyarakat Davadasi yang matriarki.

Tak ada seorang pun pria diantara mereka. Mereka tidak memiliki ayah. Maka itu, mereka disebut-sebut bukan berasal dari keluarga normal karena mereka tidak memiliki ayah.

Gadis-gadis itu mungkin tidak pernah benar-benar mengerti profesi seksnya sampai mereka kenal dengan istilah "malam pertama."

Itulah saat di mana keperawanan mereka dijual ke pria setempat, biasanya pria yang menawar harga tertinggilah yang mendapatkan keperawanan mereka.

Pria-pria ini mungkin saja petani setempat, tuan tanah atau pengusaha. Beberapa dari gadis-gadis itu berkata, "Saya didedikasikan untuk dewa dewi, tapi saya tidak tahu ternyata inilah yang terjadi."

Ketika pertama kali ke India saya mengira perempuan-perempuan ini merasa diri terhormat menjadi seorang Devadasi, karena praktik ini dilakukan demi ketaatan kepada agama.

Seksualitas dan keilahian itu sangat erat bertemali dalam keyakinan Hindu. Agama itu begitu bersambungan dengan seksualitas dan kecantikan. Tapi saya pikir kini hanya tersisa sedikit pertalian di antara itu semua. Kebanyakan wanita yang kami ajak bicara bahkan sama sekali tidak menyebut praktiknya sebagai bukti ketaatan kepada agama. Mereka tak lebih menganggapnya bisnis belaka.

HIV sangat mewabah dalam komunitas itu. Penerjemah kami yang berhubungan sangat dekat dengan komunitas-komunitas itu, menggambarkan HIV tumbuh menjamur.

Segera setelah sang perempuan terinfeksi HIV, maka seluruh anggota keluarganya ikut tertular. Semua pria yang tidur dengannya segera tertular. Kemudian lelaki-lelaki hidung belang ini menularkannya ke istri-istri mereka.

Sangat sulit mencegah penyebaran penyakit berbahaya itu karena banyak yang tidak mengerti apa yang terjadi pada mereka.

Ada pengabaian yang luar biasa mengenai bahaya AIDS dan HIV pada masyarakat-masyarakat seperti itu. Selain itu ada stigma luas terhadap penggunaan kondom.

Orang-orang yang meninggal dunia karena penyakit yang berhubungan dengan HIV mereka sebuah "mati karena demam.”

Orang-orang yang tertular kerap tak terdiagnosis. Selain itu ada kesenjangan yang sangat lebar. Salah satu kota yang kami kunjungi memiliki satu LSM besar yang mengampanyekan hak-hak pekerja seks, mendistribusikan kondom dan menggelar pendidikan seks, sehingga para Devadasi memahami bahaya penyakit itu.

Sangat sulit bagi gadis-gadis itu meninggalkan profesinya. Anda melihat kelompok-kelompok beranggotakan mantan Devadasi berubah menjadi aktivis sosial berkampanye menentang tradisi tersebut. Itu salah satu jalan keluar.

Kelompok lainnya menjadi pendidik atau pekerja sosial. Ada kemajuan besar untuk mencoba dan menghentikan tradisi itu, dan ide itu datang dari kalangan arus bawah, yaitu para perempuan mantan Devadasi.

Hidup di kehidupan normal di India setelah menjadi pelacur Devadasi adalah amat sangat sulit karena mereka dianggap barang rusak.

Di India perkawinan adalah segalanya. Jika ada informasi bahwa seorang gadis melakukan hubungan seks sebelum menikah, maka si gadis akan dikucilkan dari masyarakat.

Di beberapa desa, perempuan dirajam sampai mati karena melanggar aturan susila itu. Jadi adalah sangat sulit bagi mereka untuk menata lagi hidupnya.


sumber: http://www.antaranews.com

Jilbab bisa cegah penyakit kulit

Jilbab berguna bagi kesehatan, terutama mencegah munculnya penyakit dan kelainan pada kulit yang disebabkan oleh sinar matahari, kata pakar ilmu kesehatan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Dr Warih Andan Puspitosari.
“Sinar matahari dapat menimbulkan berbagai kelainan kulit seperti sunburn (kulit merah-merah), solar keratosis, solar urticaria, photosensitivity, dan kanker kulit,” katanya di Yogyakarta, Sabtu (12/12).
Menurut dia, jilbab berguna untuk menutupi kulit untuk meminimalkan sapuan sinar matahari di kulit. Apalagi sekarang lapisan ozon semakin menipis akibat pemanasan global.
“Kondisi itu menyebabkan sinar ultraviolet memiliki potensi lebih besar untuk mengenai kulit secara langsung tanpa disaring terlebih dulu oleh lapisan ozon,” kata dosen Fakultas Kedokteran UMY itu.
Ia mengatakan, berjilbab juga bisa melindungi para muslimah dari berbagai pelecehan seksual. Saat ini kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kalangan remaja cukup memprihatinkan.
“Data dari Rifka Annisa menunjukkan pada remaja berusia 12-21 tahun telah terjadi 137 kasus kekerasan dalam pacaran, 44 kasus pelecehan seksual, dan 78 kasus pemerkosaan,” katanya.
Selain itu, berdasarkan data konseling PKBI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 2007 angka kehamilan tidak diinginkan pada usia SMP sampai perguruan tinggi mencapai 430 kasus.
Berdasarkan data memprihatinkan tersebut, menurut dia, muslimah diharapkan memakai jilbab agar terhindar dari berbagai pelecehan seksual. Bahkan, mereka akan dihargai oleh orang-orang di lingkungannya.
“Kaum muslimah jangan takut berjilbab. Berjilbab tidak akan menghambat aktivitas, apalagi di zaman sekarang di mana kaum muslimah diberikan kebebasan memakai jilbab dengan berbagai model, berbeda dengan beberapa tahun lalu,” katanya. (Ant/OL-02)

sumber: http://www.untukku.com