Prinsip dasar dalam Syariat Islam mengenai
perbuatan-perbuatan seorang mukallaf, dirumuskan dalam kaidah syara’: Al ashlu
fi al af’al at taqayyudu bi al hukmi asy
syar’i. ‘Hukum asal dalam perbuatan-perbuatan (mukallaf) adalah terikat dengan
hukum syara’ (Taqiyuddin An Nabhani, 1953, Asy Syakhshiyah Al Islamiyah Juz
III, hal. 19).
Jadi perbuatan seorang muslim pasti mempunyai status
hukum syara’, tidak terlepas atau terbebas dari ketentuan hukum-hukum Allah,
apa pun juga perbuatan itu. Maka dari itu, seorang muslim wajib mengetahui
hukum syara’ akan suatu perbuatan, sebelum dia melakukan perbuatan itu, apakah
perbuatan itu wajib, sunnah, mubah, makruh, atau haram. Jika dia tidak
mengetahui hukumnya, wajib baginya bertanya kepada orang-orang yang berilmu.
Firman Allah SWT :
“Maka
bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
(TQS An Nahl : 43)
Dengan demikian, seorang muslim wajib mengetahui
hukum-hukum syara’ yang berkaitan dengan perbuatan yang dilakukannya. Jika
perbuatan itu berkaitan dengan aktivitasnya sehari-hari, atau akan segera dia
laksanakan, hukumnya fardhu ‘ain untuk mempelajari dan mengetahui
hukum-hukumnya.Misalnya seorang dokter, maka dia wajib ‘ain untuk mengetahui
hukum pengobatan, definisi hidup atau mati, otopsi, dan sebagainya. Seorang
pedagang, wajib