17 Nov 2010

Gawat, Bumi Terancam akan Meredup

 Headline

Di masa depan, bumi menghadapi ancaman baru yaitu peredupan global. Kondisi memprihatinkan ini terkait jumlah polusi yang berlebihan.

Polusi dan asap saat ini menjadi masalah besar di berbagai bagian Asia karena menyebabkan benua tersebut hanya mendapatkan seperempat sinar matahari dibandingkan 50 tahun lalu. Fenomena tersebut mempengaruhi kualitas pertumbuhan tanaman.

Kota seperti Beijing dan New Delhi berada di bawah awan cokelat di atmosfer. Ini diduga disebabkan penggunaan tungku pembakaran kayu.

Karbon hitam juga menyebabkan kerusakan pertanian. Panas yang terus terperangkap di bumi menyebabkan masalah perubahan iklim, dan mencairnya es bumi.

Kepala Program Lingkungan Hidup PBB Achim Steiner akan mengambil tindakan soal ini pada konferensi bulan ini di Cancun, Mexico.

Tungku memasak yang tidak efisien diperkirakan bertanggung jawab atas 25% jumlah emisi karbon hitam. Ini adalah fenomena nyata di mana awan cokelat muncul akibat kompor kayu dan jumlah tanaman yang dibakar.

Beberapa awan dari Indonesia, ujar Frank Jelly yang merupakan profesor kesehatan lingkungan di Kings College, London, telah menyebabkan penutupan beberapa sekolah di Singapura.

Namun, ada kerugian dari pemecahan masalah ini karena karbon hitam di atmosfer juga menyerap panas. Karenanya, jika ini dilenyapkan, maka dapat mempercepat pemanasan global.


14 Nov 2010

Peneliti Korea Kembangkan Alkohol Sehat

 

Alkohol teroksigenasi ini memiliki efek memabukkan yang tidak separah alkohol biasa.

 Alkohol menghadirkan sejumlah efek samping berbahaya bagi peminumnya. Mulai dari merusak organ tubuh, hilangnya koordinasi, dan gangguan yang bisa menjurus ke hal berbahaya lainnya. Akan tetapi, bagi sebagian peminum alkohol, sensasi mabuk tersebut sangat menggiurkan.

Untuk itu, Kwang-il Kwon, seorang dokter asal Korea dan Hye Gwang Jeong, peneliti dari Chungnam National University di Korea Selatan mengembangkan alkohol yang aman.

Tidak seperti kelompok peneliti lain yang fokus ke pembuatan minuman pengganti alkohol, kedua ilmuwan Korea tersebut meneliti oxygenated alcohol yang merupakan jenis alkohol populer di Korea.

Oxygenated alcohol memiliki penampilan serupa dengan carbonated alcohol seperti bir dan minuman beralkohol lainnya. Akan tetapi, gas utama dari alkohol jenis tersebut adalah diatomic oxygen, bukan karbon dioksida.

Untuk menguji, peneliti memberikan masing-masing 19,5 persen oxygenated alcohol dan 19,5 persen uncarbonated alcohol pada minuman berdosis 240 dan 360 mililiter yang diminum responden.

Yang menarik, mereka yang meminum oxygenated alcohol sadar antara 20 hingga 30 menit lebih cepat dibanding mereka yang meminum alkohol biasa. Semakin banyak oksigen yang dicampurkan pada alkohol, semakin cepat pula peminum sadar dari mabuknya.

Sebagai contoh, responden yang meminum 360 mililiter oxygenated alcohol dengan kandungan oksigen sebanyak 20 ppm sadar 23,3 menit lebih dulu dibanding mereka yang meminum alkohol biasa dalam dosis yang sama banyak. Begitu oksigen dinaikkan menjadi 25 ppm, mereka sadar 27 menit lebih cepat.

Uji coba menunjukkan bahwa keesokan paginya, mereka yang menenggak minuman teroksigenasi jarang mengalami rasa tidak nyaman dibanding mereka yang meminum alkohol konvensional. Mereka yang mengalami hangover pun tidak separah mereka yang minum alkohol biasa.

Dari penelitian terungkap bahwa oksigenasi meminimalisir efek negatif pada tubuh. Cepatnya kembali sadar dari mabuk mengindikasikan bahwa oxygenated alcohol diproses lebih cepat yang berarti mengurangi beban pada hati dan organ lainnya. Berkurangnya efek hangover di pagi hari juga mengindikasikan bahwa aliran darah ke otak lebih baik risiko rusaknya otak lebih rendah.

“Minuman alkohol kaya oksigen mengurangi konsentrasi plasma alkohol lebih cepat dibanding minuman alkohol biasa. Ini memungkinkan peminum lebih cepat sadar dari mabuknya,” kata Kwon, seperti dikutip dari DailyTech, 14 November 2010. “Selain itu, alkohol jenis ini juga mengurangi efek samping tanpa mengurangi sensasi menenggak alkohol,” ucapnya.

Meski berhasil membuat alkohol yang lebih “sehat” bagi peminumnya, akan tetapi belum dijelaskan apakah alkohol teroksigenasi tersebut memiliki rasa yang sama di lidah dan di mulut dibandingkan dengan alkohol biasa. Jika berhasil menyamai, penelitian tersebut barhasil melakukan terobosan besar ke arah minuman yang ada di film Star Trek yang disebut “synthehol” alias alkohol sintetis.


Pesawat Kertas Hasilkan Foto-foto Menakjubkan

 Headline
Sebuah pesawat kertas yang diterbangkan ke tepi ruang angkasa telah menghasilkan jepretan foto-foto menakjubkan yang diambil dari batas akhir bumi.

Misi pesawat kertas Hering 1 yang diluncurkan pada 28 Oktober lalu itu sebagai bagian dari Paper Aircarft Release in Space (PARIS), proyek yang dilakukan oleh tiga peminat ruang angkasa dengan The Register dan publikasi teknologi online di Inggris

"Proyek ini muncul sebagai tanggapan terhadap proposal Jepang untuk melemparkan pesawat kertas dari Stasiun Luar Angkasa Internasional," kata penulis Register Lester Haines pada SPACE.com melalui email. "Kami pikir kami bisa berbuat lebih baik, jadi kami lakukan."

Haines dan sesama penggemar ruang angkasa Steve Daniels dan John Oates membangun pesawat ruang angkasa pengambil foto yanag terbuat dari sedotan kertas dan kertas kaku yang digunakan sebagai tulang penguat. Pesawat ini memiliki lebar sayap 3-kaki (1 meter) dan dicat oranye dan perak.

Pesawat itu dibawa ke langit dengan balon helium dan mencapai ketinggian sekitar 89.591 kaki atau hampir 27,3 km, sebelum turun ke bumi dan mendarat di daerah berhutan tebal, sesuai dengan pembaruan oleh Register.


Terungkap, Mengapa Permukaan Bulan Menggembung

 Headline
Bumi mungkin memegang perangan penting dalam mempengaruhi permukaan Bulan. Gravitasi Bumi menjadikan permukaan Bulan jadi menggembung.

Gravitasi bumi menciptakan tonjolan pada garis khatulistiwa bulan, serta memberikan penjelasan mengapa sisi jauh Bulan lebih tinggi daripada sisi yang menghadap Bumi seperti saat ini. Rincian penelitian ini muncul di jurnal Science.

Sisi belakang bulan pada dasarnya merupakan misteri. Sisi depan bulan yang biasa dilihat manusia terdiri dari bermacam kawah dan dataran vulknaik. Namun, kawasan sisi belakang bulan ternyata jauh lebih tinggi.
Dan sekarang ilmuwan tahu mengenapa ini bisa terjadi, sebagian besar karena Bumi.

Selama lebih dari empat miliar tahun, setelah bulan terbentuk dan pemadatan inti, kerak bulan mengapung di lautan magma. Selama itu pula, gaya gravitasi Bumi menarik kerak yang mengambang dan menciptakan distorsi. Fenomena tersebut mirip dengan fenomena Bulan yang menciptakan pasang surut pada lautan bumi.

Tonjolan pasang surut bulan kemudian menyebabkan kerak mencair dan menipis di sisi kutub di mana lapisan ini kemudian membesar. Selanjutnya, kerak di tiap garis khatulistiwa bulan tetap tebal dan menggembung.

Profesor Ian Garrick-Bethell dari University of California Santa Cruz, yang memimpin studi ini percaya bahwa proses pasang surut dapat menjelaskan sekitar 25% hingga 40% topografi bulan.

Studi kami yang pertama mengukur struktur dan bentuk dari sisi jauh bulan dan alasan pembentukannya, kata Garrick Bethell. Kami mampu menjelaskan topografi berdasarkan proses pasang surut, ujarnya seperti dikutip dari BBC.


13 Nov 2010

Suku Aborigin

Suku Aborigin dan Torres Strait Islander adalah suku Pribumi Australia. 

Mereka sudah tinggal dan memlihara tanah air Australia selama hampir 60.000 tahun dengan menggunakan sistem pemerintahan dan hukum mereka sendiri. Konon, mereka menetap di benua terkecil itu selama ribuan tahun yang lalu. Tapi kemudian mereka tergeser oleh bangsa pendatang yang lebih “cerdas” berkulit putih dari Eropa.

Secara fisik, suku Aborigin seperti orang-orang Papua : berkulit gelap dan berambut keriting, tapi sekarang sudah mengalami perubahan, yakin berkulit kecoklat-coklatan dan berambut ikal. Asal mulanya mereka mempunyai daratan yang sama. Para ilmuwan menyatakan, karena proses alam yang bergerak, daratan besar itu kemudian berpisah. Di sebelah selatan menjadi Australia. Sementara di daratan sebelah utara menjadi pulau Papua yang masuk wilayah Indonesia. Klop dengan nama Australia berasal dari kata “Australis” yang dalam bahasa latin berarti “Selatan”, sementara orang Belanda menyebut “Australische” yang memiliki makna sama. Suku berkulit gelap itu kemudian terpisah. Keduanya menjalani nasib sendiri-sendiri di negara yang berbeda. Baik di Indonesia maupun Australia mereka sulit eksis karena keterbelakangan. Rupanya, perbedaan warna kulit yang mencolok di daratan selatan menjadikan suku aborigin kurang berutung. Kaum pendatang di Australia yang berkulit putih mulus memperlakukan peduduk asli itu tidak sewajarnya. Di saat persemakmuran Australia berdiri pada 1 Januari 1701 misalnya, suku aborigin dianggap bagian dari fauna!
Wuiih.. ini sih, bener-bener parah..

Namun pandangan Australia berangsur-angsur melunak dan memberikan ruang bagi penduduk asli tersebut setelah (konon) banyak melakukan pembunuhan. Caranya yang agak unik : Australia menetapkan politik asimilasi untuk mencampur dua jenis manusia yang memiliki warna kulit berbeda itu.

Anak-anak aborigin dipisahkan dari keluarganya secara paksa kemudian di tempatkan di panti asuhan untuk “diputihkan”. Sebagian kemudian diasuh oleh si kulit putih sebagai pekerja atau pembantu. Anak laki-laki dipungut untuk dijadikan pekerja gratis di peternakan terpencil. Mereka dihukum berat ketika berbuat tidak salah atau sesuatu yang tidak menyenangkan. Sama seperti apartheid, rupanya nasib aborigin juga ditentukan oleh warna kulit. Dari sinilah muncul istilah “the stolen generation” yang membuat Perdana Menteri Australia sekarang, Kevin Rudd, meminta maaf.

Di awal 2006, pemerintah Australia pernah melemparkan isu pemusnahan etnik pada penduduk Papua oleh Indonesia. Entah dari mana isu itu berkembang, media setempat mengopinikan secara besar-besaran. Herman Wanggai, pimpian sparatis Papua yang mendapat visa Australia mengatakan, ratusan ribu warga Papua telah dibantai habis. Meski pun berkata seperti itu, Wanggai tidak bisa membuktikan kata-katanya. Terlebih, ketika aktivis HAM menelusuri laporan tersebut juga tidak menemukan pembantaian. Banyak yang menduga, ini politik Australia untuk mendeskreditkan Indonesia di mata internasional. Australia seolah ingin menumpahkan “dosa” pada Indonesia atas perlakuan terhadap suku berkulit gelap itu. Karena tidak terbukti, tuduhan itu seolah menjadi bumerang bagi Australia atas perlakuan pada suku aborigin.Kayaknya Australia selalu cari masalah dengan Indonesia, ya.. Masih inget, Autralia kelurain warning travel (yang sebenarnya gak perlu) bagi warganya yang mau ke Indonesia!