17 Nov 2010

Wah Ada Ponsel yang Kemampuannya sangat Minim

  Headline


Ponsel yang beredar saat ini sangat canggih dengan fungsi beragam. Namun ada ponsel yang kemampuannya sangat minim, dan hanya bisa untuk menelepon saja.

Ponsel ini tak bisa digunakan untuk memutar mp3, menjalankan aplikasi, bahkan mengirimkan sms. John’s Phone juga tak bisa membuka Facebook atau Twitter. Namun, ponsel ini memiliki ketahanan baterai hingga tiga minggu.

Selain itu, manual ponsel ini hanya satu halaman saja, seperti dikutip dari The Sun. Buku telepon ponsel ini juga berupa pena dan buku catatan yang menempel di bagian belakang ponsel.

Ponsel ini sedikit lebih kecil dari iPhone, dengan panjang 10,5 cm. Ponsel ini dijuluki anti-phone. Agen iklan Belanda John Doe, produsen ponsel ini berharap produknya itu akan menjadi hit ketika pembeli mulai bingung dengan teknologi modern, dan anak muda ingin membeli ponsel pertama mereka.

Ponsel ini dihargai 59 pounds (Rp 850 ribu) dengan warna pink atau hijau. Fitur modern yang terdapat pada ponsel ini adalah 10 speed-dial. “Di masa pilihan menjadi banyak, kami ingin membuat gadget sederhana,” kata perancang ponsel ini Diedriekje Bok.

Telinga akan Gantikan Sidik Jari

 Headline



Identifikasi biometrik menggunakan sidik jari diperkirakan tergantikan telinga di masa depan. Telinga diklaim memiliki keunikan khusus.

Menurut peneliti University of Southamptons School of Electronics and Computer Science, Alastair Cummings, Mark Nixon dan John Carter, terungkap fakta telinga merupakan bagian tubuh manusia yang mengalami perubahan relatif kecil selama rentang kehidupan manusia.

“Nantinya, biometrik telinga ini akan mencatat dan mengukur telinga dari berbagai posisi,” jelas Alastair Cummings, seperti dikutip dari net-security.

Pindai sidik jari atau mata dinilai masih memiliki kelemahan. Oleh karenanya, pindai sidik jari akan makin jarang digunakan. 


Wow, Asteroid Kecil Dekati Bumi Sore Ini

 Headline


Asteroid kecil mendekat Bumi sore ini pada jarak yang lebih dekat dari bulan. Untungnya, asteroid ini tak mengancam.

Asteroid 2010 WA akan melewati Bumi pada 10.44 EST (17.44 WIB), tulis tim pengawas asteroid NASA di Twitter. Asteroid ini memiliki diameter 10 kaki (3 meter). Begitu kecilnya, asteroid ini akan pecah jika masuk atmosfer bumi.

Pejabat NASA mengatakan, asteroid ini adalah “batu sangat kecil luar angkasa” yang akan melewati Bumi pada jarak sepersepuluh jarak Bumi dan bulan. Jarak bulan dari Bumi sekitar 238.900 mil (384.402 km).

Beberapa satelit bumi melintas pada posisi geostasioner sekitar 22.370 mil (36.000 km). International Space Station (ISS) berada di 220 mil (354 km) di atas Bumi. Asteroid 2010 WA merupakan batu ruang angkasa keempat yang tak berbahaya berada dalam orbit bulan.

Asteroid 2010 TD54 juga melewati Bumi dengan jarak sama pada 12 Oktober. Pada September, penampakan dua asteroid langka (2010 RX30 dan 2010 RF12) terjadi di dalam orbit bulan.

NASA mengatakan, ada sekitar 30 juta asteroid tak dikenal di tata surya kita. Bahkan, Asteroid 2010 WA bukan asteroid pertama yang melewati sistem Bumi-Bulan bulan ini. Pada 9 November, asteroid kecil 2010 VL65 melewati Bumi pada jarak 610 ribu mil (980.000 km), kata NASA. Asteroid kecil ini terbakar saat mencapai atmosfer Bumi.

NASA secara rutin mengamati asteroid dan komet yang melintas Bumi dalam program Near-Earth Object Observations menggunakan jaringan teleskop tdi darat dan di luar angkasa. Hingga kini, program ini berhasil melacak 85% asteroid terbesar yang terbang dekat Bumi dan 15% asteroid di kelas 460-kaki (140 meter).

NASA berencana mengirim astronot ke asteroid pada 2025 di bawah rencana ruang angkasa Presiden Obama. Misi ini akan membantu ilmuwan lebih memahami komposisi asteroid, serta mengembangkan metode untuk memantulkan asteroid sebelum mengancam Bumi.


Galaksi Bimasakti akan Mati dari Dalam?

 Headline


Studi baru menemukan struktur bintang berbentuk balok di pusat galaksi spiral, termasuk Bimasakti. Ini mampu menghancurkan galaksi dari dalam.

Peneliti menemukan bahwa galaksi spiral di formasi bintang mungkin memiliki balok pusat (formasi linier besar). Peneliti berpendapat bahwa balok itu merupakan tersangka utama yang menekan formasi bintang, meskipun bagaimana terjadinya masih misteri.

Kemunculan balok-balok ini mungkin hanya efek samping mekanisme misterius bintang pembunuh, kata peneliti. Penelitian ini membantu astronom lebih memahami masa depan Bimasakti di mana galaksi ini juga memiliki balok pusat.

Untuk itu, peneliti mendaftar ribuan relawan melalui proyek online Galaxy Zoo 2. Proyek ini meminta relawan membantu mengklasifikasi galaksi menurut bentuk. Selain itu, relawan diminta mengamati 250 ribu galaksi, dan menentukan terdapat balok atau tidak.

Menggunakan informasi ini, peneliti menemukan galaksi spiral merah yang kemungkinan besar memiliki balok pusat seperti galaksi spiral biru. Galaksi biru mendapatkan warna birunya dari bintang muda di dalamnya. Galaksi merah berisi bintang tua dan formasi bintang ini telah berhenti dan membuatnya berwarna merah.

Untuk beberapa saat, data menunjukkan spiral dengan banyak bintang tua kemungkinan besar memiliki balok pusat, kata pemimpin studi. Penelitian ini akan diterbitkan di jurnal bulanan Notices of the Royal Astonomical Society.


Ingin Tahu Kiamat Akibat Asteroid?

 Headline



Asteroid sudah berkali-kali membuat kehidupan di bumi kiamat. Peneliti Purdue University menciptakan simulasi agar orang dengan mudah mengetahui dampak asteroid pada bumi.

Orang bisa memilih bagian Bumi mana saja yang akan dihancurkan dan seberapa besar efek kerusakan. Bahkan, bisa memilih caranya. Tsunami? Gempa Bumi?. Menurut Profesor Jay Melosh, ilmuwan bumi dan atmosfer di Purdue University, teknologi menyangkut kerusakan planet itu bahkan balita pun bisa memanfaatkannya.

Sebenarnya, teknologi yang dibuat Melosh adalah simulasi yang mudah digunakan. Media ini memaparkan berbagai asteroid yang potensial bisa menghancurkan Bumi. Dengan memilih karakteristik batuan kosmik seperti ukuran, kecepatan, kepadatan sudut pendekatan dan sebagainya, maka akan diketahui kerusakan yang dihasilkan dari tabrakan materi luar angkasa itu ke Bumi.

Situs itu selain membantu guru memberikan informasi soal fisika dan sejarah tabrakan asteroid ke murid, juga membantu ilmuwan NASA dan Departemen Pertahanan AS mempelajari skenario terburuk tabrakan asteroid ke Bumi.

Sistem tata surya sendiri selalu menjadi ajang pamer tabrakan materi mengingat banyaknya debu dan batuan luar angkasa. Sekitar 100 ton debu dari komet dan asteroid menabrak Bumi setiap hari. Ini termasuk batuan sebesar mobil, meskipun pecah di atmosfer sebelum benar-benar mencapai tanah. Namun, setiap 100 tahun, materi besar mendekati bumi.

Misalnya pada 30 Juni 1908, sebuah asteroid yang diperkirakan berdiameter 37 meter, jatuh di atas Sungai Tunguska, Siberia. Ini menciptakan ledakan setinggi 8.500 meter dan setara dengan 185 energi atom yang menghancurkan Hiroshima. Selain itu, Kawah Barringer sangat luas di Padang Arizona, kemungkinan disebabkan asteroid berdiameter 50 meter yang menabrak bumi 50 ribu tahun lalu. Dinosaurus diperkirakan musnah akibat asteroid selebar 14 kilometer yang menabrak Bumi 65 juta tahun lalu.

Sejak 1995, Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA menganggap serangan asteroid sebagai hal paling serius. Mereka melacak asteroid yang berada di dekat bumi dengan bantuan Palomar Observatory di California Institute. Meskipun JPL mengirim banyak peringatan, tapi bahaya asteroid tetap saja ada.

April lalu misalnya, sebuah asteroid yang bernama 2010 GA6 berada di dekat bumi dengan jarak 270 ribu mil. Ini hanya sedikit lebih jauh 30 ribu dibandingkan jarak bulan. Tiga bulan sebelumnya, objek lain bahkan berada di jarak 76 ribu mil.

Program menjaga Bumi tidak hanya dilakukan Departemen Pertahanan AS dan NASA, tetapi juga Angkatan Udara AS, United State Geological Survey (USGS) dan pemerintah negara lain. Mereka menciptakan skenario pascabenana dan mengeksplorasi teknologi yang mampu melacak kedatangan asteroid. Metode itu termasuk penggunaan pesawat luar angkasa tidak berawak.

Studi menggunakan media web lebih cepat, meskipun kurang akademis dalam mempublikasikan dampak asteroid. Asteroid dapat menyebabkan faktor tak terduga seperti dampak kiloton energi, radius puing-puing asteroid dan lainnya.

Padahal, kalkulasi ini sangat penting untuk menentukan potensi dampak bencana, ujar John Spray, direktur pusat ilmu planet dan luar angkasa di University of New Brunswick, Kanada. Namun, simulasi ini bernilai positif karena banyak digunakan instansi pemerintah dan kelompok ilmiah untuk meneliti peristiwa luar angkasa.